Huawei Tidak Akan Tunduk Pada Tekanan AS, Kata Pendiri Ren Zhengfei

PolisiTidur.com – Presiden Donald Trump secara efektif melarang Huawei dari pasar AS pada hari Rabu dan menambahkannya ke dalam daftar yang akan dibatasi penjualan komponen AS ke perusahaan di tengah meningkatnya perang dagang dengan Beijing.

“Kami sudah mempersiapkan ini,” kata Ren kepada sekelompok wartawan Jepang pada hari Sabtu, dalam wawancara pertamanya sejak langkah yang dilakukan Trump.

Mr Ren mengatakan Huawei akan terus mengembangkan komponennya sendiri untuk mengurangi ketergantungannya pada pemasok luar. Huawei adalah pemimpin yang berkembang pesat dalam teknologi 5G tetapi tetap bergantung pada pemasok asing.

Perusahaan itu membeli komponen senilai sekitar US $ 67 miliar setiap tahun, termasuk sekitar US $ 11 miliar dari pemasok AS, menurut harian bisnis Nikkei.

Mr. Ren, 74, yang biasanya sulit dijumpai telah muncul ke media dalam beberapa bulan terakhir dalam upaya menghadapi tekanan yang meningkat pada perusahaannya.

Latar belakang tentara Mr. Ren dan Huawei telah memicu kecurigaan di beberapa negara bahwa perusahaan itu memiliki hubungan dengan militer China dalam layanan intelijen.

Huawei juga menjadi target kampanye intens oleh Washington, yang telah berusaha membujuk sekutu mereka untuk tidak membiarkan China berperan dalam membangun jaringan seluler 5G generasi berikutnya.

Instansi pemerintah AS sudah dilarang membeli peralatan dari Huawei.

“Kami belum melakukan apa pun yang melanggar hukum,” kata Ren, seraya menambahkan langkah-langkah AS akan memiliki dampak terbatas.

“Diharapkan pertumbuhan Huawei dapat melambat, tetapi hanya sedikit,” katanya, menurut The Nikkei.

Mr. Ren, seorang mantan teknisi militer mendirikan perusahaan Huawei pada tahun 1987. Huawei sekarang mengklaim memiliki hampir 190.000 karyawan, beroperasi di 170 negara, dan melaporkan pendapatan lebih dari US $ 100 miliar pada tahun 2018.

Mr Ren mengatakan perusahaannya tidak akan menyerah pada tekanan dari Washington.

“Kami tidak akan mengubah manajemen kami atas permintaan AS atau menerima pemantauan mereka, seperti yang telah dilakukan ZTE,” katanya, seperti dikutip oleh The Nikkei, merujuk pada sesama raksasa telekomunikasi China ZTE yang juga menjadi sasaran Washington.

ZTE nyaris bangkrut tahun lalu setelah perusahaan-perusahaan AS dilarang menjual komponen-komponen vital kepada meraka karena terus berhubungan dengan Iran dan Korea Utara.

Trump kemudian membalikkan keputusan dan sebagai imbalannya ZTE harus membayar denda US $ 1 miliar dan menerima pemantauan khusus oleh Departemen Perdagangan AS.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via